Keluarga Muslim

Jangan Pernah Meremehkan Beratnya Ujian Ekonomi Seseorang.

Ujian ekonomi itu berat, bahkan terkadang sangat berat hingga seseorang kehilangan ketenangan dan kemampuan berpikir jernih.

Kita mungkin begitu mudah mengatakan, "Kurang belajar tauhid, kurang memahami takdir Allah, kurang sabar."

Namun, pernahkah kita membayangkan bagaimana rasanya menjadi seorang ayah yang melihat anaknya kelaparan, sementara ia tidak tahu harus mendapatkan uang dari mana? Bagaimana rasanya memikirkan utang yang menumpuk, kebutuhan keluarga yang tak terpenuhi, bisnis yang bangkrut, bahkan rumah tangga yang ikut berantakan?

Ada orang yang siang harinya masih berusaha tersenyum, tetapi malamnya menangis memikirkan bagaimana keluarganya bisa makan esok hari.

Jangan mengira orang yang sudah bertahun-tahun belajar tauhid, memahami sabar dan tawakal, tidak bisa mengalami tekanan mental ketika ujian datang bertubi-tubi. Mereka juga manusia, punya keterbatasan dan bisa berada di titik terendah kehidupannya.

Maka, jangan mudah menghakimi keimanan seseorang hanya karena kita tidak pernah merasakan beratnya ujian yang sedang ia hadapi.

Jangan hanya pandai menasihati saudara kita agar bersabar. Jadilah orang yang ikut meringankan bebannya.

Jika belum mampu membantu dengan harta, bantulah dengan tenaga. Jika belum mampu dengan tenaga, setidaknya jangan menyakiti hatinya dengan perkataan yang merendahkan.

Ingatlah, hari ini mungkin kita yang berkecukupan, tetapi esok siapa yang tahu? Kita pun bisa berada di posisi orang yang sedang membutuhkan pertolongan.

Semoga Allah melapangkan kesulitan saudara-saudara kita, mencukupkan rezeki mereka, menguatkan hati mereka, dan menjadikan kita sebab keringanan bagi beban orang lain.

Mari saling menjaga, bukan saling menghakimi.