Bahkan karena begitu bahagianya seseorang dengan nikmat hidayah yang Allah berikan, orang-orang di sekitarnya terkadang menyangka bahwa ia sedang hidup dalam kelapangan harta.
Mereka melihatnya tenang, wajahnya ceria, tidak banyak mengeluh, dan tetap bersyukur. Akhirnya, datanglah orang menawarkan mobil, rumah, motor, bahkan ada yang datang untuk meminjam uang.
Padahal bisa jadi, kondisi sebenarnya jauh dari yang mereka bayangkan.
Uang yang dimiliki pas-pasan. Beras di rumah sudah hampir habis. Minyak motor sudah kering. Kebutuhan rumah tangga masih menunggu untuk dipenuhi.
Namun ia tetap berusaha menjaga hati agar tidak mengeluh kepada manusia.
Sebab ada nikmat yang jauh lebih besar daripada kelapangan harta: nikmat hidayah.
Harta yang sedikit terasa cukup ketika hati dipenuhi qana'ah. Hidup yang sederhana terasa indah ketika Allah memberikan ketenangan. Kesulitan tetap ada, tetapi hati tidak selalu merasa menderita karenanya.
Bukan berarti ia tidak membutuhkan harta. Bukan pula berarti ia tidak memiliki kebutuhan. Ia tetap manusia yang membutuhkan makan, tempat tinggal, kendaraan, dan memenuhi kebutuhan keluarganya.
Hanya saja, ia telah merasakan bahwa kebahagiaan tidak selalu berbanding lurus dengan banyaknya harta.
Maka jangan tertipu dengan seseorang yang terlihat bahagia. Bisa jadi ia sedang menyimpan banyak kesulitan yang tidak ia ceritakan kepada manusia.
Dan jangan pula mengira seseorang sedang berkelapangan hanya karena ia jarang mengeluh.
Boleh jadi, yang membuatnya tetap tersenyum bukan karena hartanya banyak, tetapi karena ia merasa telah diberikan sesuatu yang jauh lebih berharga: hidayah untuk mengenal kebenaran dan tetap berada di atas sunnah.
Itulah nikmat yang membuat seseorang tetap tenang, bahkan ketika beras hampir habis, bahan bakar kendaraan menipis, dan uang di dompet tinggal sedikit.
Karena ia tahu, selama Allah masih memberikan hidayah, maka masih ada nikmat yang tidak ternilai harganya.