Sudah lama hijrah. Jenggot pun sudah memutih. Bertahun-tahun belajar, menghadiri majelis ilmu, membaca Al-Qur’an, bahkan mungkin sudah merasa bahwa bacaan Al-Qur’an telah baik dan tidak perlu lagi dikoreksi.
Rasa percaya diri itu semakin tumbuh. Sampai akhirnya Allah memberi hidayah untuk melakukan sesuatu yang sederhana: mengecek kembali bacaan Al-Qur’an kepada seorang guru tahsin.
Duduklah ia di hadapan sang guru. Namun ternyata sang guru tidak langsung meminta membaca surah panjang. Beliau hanya berkata, "Coba baca Alif, Ba, Ta..."
Dan di situlah semuanya mulai runtuh.
Ternyata hampir semuanya salah.
Huruf yang selama ini merasa sudah sangat dikenal ternyata belum benar makhrajnya. Cara pengucapannya masih keliru. Bacaan yang selama ini dianggap sudah bagus ternyata masih banyak yang perlu diperbaiki.
Betapa terkejutnya.
Selama ini begitu percaya diri. Bahkan kalau suatu hari diminta menjadi imam di Masjidil Haram, mungkin ia akan berani.
Tetapi ternyata... membaca Alif Ba Ta saja belum benar.
Saat itu, bukan sekadar bacaan yang sedang diperbaiki. Allah sedang memperbaiki hati.
Runtuhlah kesombongan. Runtuhlah rasa senioritas. Runtuhlah perasaan "saya sudah lama belajar." Runtuh pula anggapan bahwa lamanya seseorang berada di jalan kebaikan berarti ia sudah sempurna.
Ternyata seseorang bisa memiliki jenggot yang telah memutih, tetapi masih harus belajar dari dasar. Bisa lama menghadiri majelis ilmu, tetapi masih membutuhkan koreksi. Bisa merasa sudah jauh berjalan, padahal dalam beberapa perkara ternyata masih tertatih-tatih.
Dan mungkin inilah salah satu bentuk kasih sayang Allah: Allah memperlihatkan kekurangan kita sebelum kita merasa diri kita sudah sempurna.
Maka jangan malu kembali belajar dari dasar. Jangan merasa terlalu senior untuk dikoreksi. Jangan merasa terlalu lama hijrah untuk mengatakan, "Saya belum bisa."
Sebab semakin seseorang mengenal ilmu, seharusnya semakin ia menyadari betapa banyak yang belum ia ketahui.
Dan terkadang, Allah tidak membutuhkan kita untuk menjadi orang yang merasa sudah sempurna. Allah hanya ingin kita menjadi hamba yang mau terus belajar, mau menerima koreksi, dan tidak pernah berhenti memperbaiki diri.
Barangkali yang paling kita butuhkan bukanlah pujian bahwa bacaan kita sudah bagus, tetapi seseorang yang berani berkata:
"Bacaanmu masih salah. Mari kita perbaiki bersama."
Karena bisa jadi, satu koreksi terhadap Alif Ba Ta hari ini jauh lebih menyelamatkan kita daripada bertahun-tahun hidup dalam rasa percaya diri yang keliru.