Masing-masing kita memiliki jalan jihadnya masing-masing. Demikian pula dengan anak-anak kita.
Ada orang tuanya seorang nelayan, tetapi Allah takdirkan anaknya menjadi ustadz. Ada orang tuanya seorang dokter, tetapi anaknya justru menjadi ustadz. Ada pula orang tuanya seorang ustadz, tetapi anaknya Allah takdirkan menjadi pedagang.
Dan itu bukan masalah.
Karena Allah tidak mewajibkan semua anak menjadi ustadz. Yang Allah wajibkan adalah mereka menjadi hamba-Nya yang taat.
Jangan sampai kita sebagai orang tua terlalu sibuk menentukan profesi dan masa depan anak, sampai lupa bahwa yang paling penting adalah bagaimana anak tersebut mengenal Rabb-nya, menjaga shalatnya, mencintai Al-Qur’an dan Sunnah, berakhlak baik, mencari rezeki yang halal, serta memberikan manfaat kepada manusia.
Bisa jadi jihad seorang anak bukan di atas mimbar.
Bisa jadi jihadnya sebagai pedagang yang jujur, dokter yang amanah, guru yang ikhlas, petani yang halal penghasilannya, nelayan yang sabar, pengusaha yang membantu banyak orang, atau seorang pekerja yang menjaga amanah dan menjauhi yang haram.
Jangan ukur keshalihan anak hanya dari profesinya.
Tidak semua anak mesti menjadi ustadz. Tidak semua anak mesti menjadi ulama. Tetapi semua anak mesti kita didik untuk menjadi hamba Allah yang taat.
Dan jangan lupa, menjadi ustadz bukanlah sebuah gelar yang pantas dikejar demi kebanggaan orang tua.
Jika Allah membukakan jalan bagi anak kita untuk menjadi ustadz atau ulama, maka itu adalah nikmat yang besar.
Namun jika Allah membukakan jalan lain yang halal dan bermanfaat, jangan merasa anak kita telah gagal hanya karena ia tidak menjadi ustadz.
Boleh jadi kita sibuk menginginkan anak menjadi ustadz, sementara yang Allah inginkan dari kita adalah mendidiknya menjadi seorang Muslim yang jujur, amanah, bertakwa, dan bermanfaat bagi umat.
Maka jangan jadikan anak sebagai proyek untuk mewujudkan ambisi kita.
Didik mereka untuk Allah, bukan untuk kebanggaan kita.