Jangan sampai kita baru menyadari mahalnya sebuah nikmat setelah Allah mencabutnya.
Bayangkan jika suatu hari hati kita tidak lagi merasa rindu kepada majelis ilmu. Tidak lagi menikmati lantunan Al-Qur’an. Tidak lagi merasa khusyuk ketika bersujud. Tidak lagi memiliki kekuatan untuk berpuasa. Tidak lagi ringan tangan untuk bersedekah.
Lalu kita baru tersadar:
“Dulu semua itu adalah kesempatan yang Allah berikan kepadaku, tetapi mengapa dahulu aku menyia-nyiakannya?”
Betapa meruginya kita.
Yang lebih mengkhawatirkan, terkadang nikmat itu dicabut tanpa kita sadari. Kita masih merasa sebagai orang yang taat, masih merasa berada di jalan yang benar, padahal perlahan-lahan kita telah menyimpang.
Majelis ilmu mulai ditinggalkan. Al-Qur’an semakin jarang dibaca. Shalat mulai terasa berat. Dosa dianggap biasa. Nasihat tidak lagi menyentuh hati. Ketaatan yang dahulu kita cintai, perlahan-lahan kita tinggalkan.
Dan yang paling miris, kita tidak merasa sedang kehilangan. Kita merasa baik-baik saja.
Hari ini kita masih bisa bersujud, tetapi kita menunda-nundanya. Hari ini kita masih bisa membaca Al-Qur’an, tetapi kita lebih memilih membuka sesuatu yang tidak bermanfaat. Hari ini kita masih bisa menghadiri majelis ilmu, tetapi kita merasa malas.
Padahal kita tidak pernah tahu, sampai kapan nikmat itu akan Allah pertahankan.
Bisa jadi hari ini adalah kesempatan terakhir kita duduk di majelis ilmu. Bisa jadi hari ini adalah kesempatan terakhir kita membaca Al-Qur’an. Bisa jadi hari ini adalah salah satu sujud terakhir kita di dunia.
Maka jangan menunggu kehilangan untuk belajar bersyukur.
Syukurilah nikmat sebelum ia berubah menjadi kenangan. Gunakan kesempatan sebelum ia menjadi penyesalan.
Karena yang paling miris bukan ketika seseorang kehilangan dunia, tetapi ketika ia kehilangan kesempatan untuk beramal kepada Allah, sementara ia baru menyadari nilainya setelah semuanya terlambat.
Betapa pedihnya, ketika kita merasa masih berada di jalan ketaatan, padahal sudah lama kita meninggalkannya. Kita merasa masih dekat dengan Allah, padahal hati kita perlahan telah menjauh.
Semoga Allah tidak mencabut dari kita nikmat iman, nikmat ketaatan, dan nikmat mencintai amal-amal yang mendekatkan kita kepada-Nya.