Ada yang datang ke majelis ilmu membawa buku, pena, dan penuh perhatian terhadap ilmu. Ada yang mencatat dengan gadgetnya. Ada pula yang tidak membawa catatan dan pena, namun fokus mendengarkan dan menyimak penjelasan ustadz.
Ada yang selama kajian banyak mencatat, karena khawatir ada faedah yang terlewat. Ada yang lebih banyak mendengarkan, karena merasa dengan menyimak secara langsung ia lebih mudah memahami penjelasan.
Ada yang bertanya ketika belum memahami. Ada pula yang memilih diam, mencatat pertanyaannya, kemudian mencari jawabannya setelah kajian selesai. Ada yang langsung mengamalkan ilmu yang baru didapat, dan ada pula yang membutuhkan waktu untuk memahami, mengulang, dan mempelajarinya kembali.
Ada yang datang ke majelis dengan semangat karena memang menyukai ilmu. Ada yang datang karena dorongan orang tua, pasangan, atau temannya. Ada yang awalnya hanya ikut-ikutan, tetapi kemudian Allah bukakan hatinya sehingga menjadi orang yang benar-benar mencintai ilmu.
Ada yang rajin menghadiri kajian secara langsung. Ada yang belajar melalui rekaman kajian karena memiliki kesibukan atau keterbatasan tertentu. Ada yang membaca kitab sendiri di rumah. Ada yang belajar bersama ustadz secara rutin. Ada pula yang lebih banyak mengulang pelajaran-pelajaran yang pernah ia dapatkan agar ilmu tersebut tidak hilang.
Bahkan bisa jadi, ada yang tidak mencatat di majelis, namun ketika sampai di rumah barulah ia menuliskan kembali apa yang didengar dan dipahaminya. Sebagaimana yang masyhur dari Imam Bukhari rahimahullah, beliau memiliki perhatian yang luar biasa dalam menjaga, menghafal, dan mengingat ilmu yang didapatkan.
Jadi, jangan terlalu cepat menilai seseorang hanya karena cara belajarnya berbeda dengan kita.
Tidak semua penuntut ilmu harus terlihat sibuk menulis. Tidak semua yang diam berarti tidak memperhatikan. Tidak semua yang tidak membawa buku berarti tidak serius belajar. Dan tidak semua yang banyak mencatat otomatis lebih memahami dan mengamalkan ilmu.
Yang terpenting adalah bagaimana ilmu itu dipahami, diingat, diamalkan, dan kemudian menjadi sebab seseorang semakin takut kepada Allah dan semakin baik akhlaknya.
Namun sepertinya, jenis penuntut ilmu yang seperti ini justru yang paling banyak : "Tidak membawa buku, tidak membawa pena, tidak mencatat dengan gadget, bahkan ketika kajian berlangsung pun terlihat sangat tenang menyimak."
Bisa jadi memang ia sedang menyimak dengan saksama.
Bisa jadi ia sedang berusaha memahami setiap penjelasan ustadz.
Bisa jadi ia tidak mencatat karena yakin masih mampu mengingatnya.
Atau bisa jadi... memang benar-benar tidak mencatat dan setelah kajian selesai sudah lupa semuanya. ????
Maka, jangan merasa paling baik hanya karena kita rajin mencatat. Dan jangan pula merasa cukup hanya karena sudah rajin hadir di majelis.
Penuntut ilmu yang sebenarnya adalah mereka yang terus berusaha mencari ilmu yang benar, memahami dengan baik, mengamalkannya, serta menjaga keikhlasan dalam menuntutnya.
Semoga Allah menjadikan kita termasuk orang-orang yang mencintai ilmu, bersungguh-sungguh dalam mencarinya, diberi pemahaman yang benar, dimudahkan untuk mengamalkannya, dan menjadikan ilmu tersebut hujjah bagi kita, bukan hujjah yang memberatkan kita di hadapan-Nya.
Semoga Allah memberikan kita ilmu yang bermanfaat, amal yang saleh, dan keistiqamahan hingga akhir hayat. Aamiin.